Sabtu, 12 Juni 2010

Rittmeister Manfred Freiherr von Richthofen





"BARON MERAH - PENERBANG TERBESAR SEPANJANG SEJARAH"

Manfred Albrecht Freiherr von Richthofen (2 Mei 1892 – 21 April 1918) adalah seorang Pilot pesawat tempur Angkatan Udara Kekaisaran Jerman (Luftstreitkrafte). Dianggap sebagai ‘ace of aces’ Perang Dunia I karena kehebatannya memenangkan 80 pertempuran di udara dengan pesawat Albatross Scout atau pesawat Fokker Triplane yang dicat warna merah darah. Ini juga yang membuatnya dikenal dengan sebutan “The Red Baron”/ Baron Merah.
            Manfred lahir di Kleinburg, Breslau, Polandia dari kalangan keluarga aristokrat yang menonjol. Sejak kecil menyukai olahraga berkuda dan berburu serta hal-hal yang bersifat gymnastic di sekolah. Mulai mengikuti latihan kemiliteran sejak usia 11 tahun.
            Sebelum memulai karir di dunia penerbangan, tahun 1911 Manfred sudah pernah berdinas  di satuan Kavaleri yang memiliki tugas sebagai pengintai di front timur dan barat. Kecewa,  karena tidak banyak dilibatkan dalam pertempuran pada tahun 1915 dia direkomendasikan untuk bergabung dengan Angkatan Udara dan ditempatkan sebagai perwira pengawas. Pada suatu kesempatan Manfred bertemu dengan Oswald Boelcke yaitu seorang pilot tempur yang akhirnya membuatnya tertarik untuk bergabung menjadi pilot dalam Jagdstaffel yang dipimpin oleh Boelcke.
            Dengan keberanian dan kemahirannya, kemenangan demi kemenangan telah diperolehnya dalam setiap pertempuran. Dalam tradisi pilot Jagdstaffel, setiap kemenangan harus dirayakan dengan minum anggur merah buatan Perancis. Khusus bagi pilot yang berhasil menembak jatuh pesawat musuh masing-masing dihadiahkan sebuah piala perak bertuliskan nama mereka. Hal ini menjadi salah satu pemicu keinginan Richtofen untuk mengumpulkan piala dari masing-masing kemenangan yang diraihnya sehingga melupakan resikonya.
            Kepiawaiannya mengemudikan pesawat dan kehebatannya menghancurkan musuh-musuhnya di udara membuat Manfred semakin dikenal. Meskipun demikian beberapa kali dia mengalami insiden dalam pertempuran dan pernah lolos dari maut setelah satu peluru yang mengenai tulang tengkoraknya, mengakibatkan ia pingsan dan buta sementara waktu. Tidak berapa lama setelah pulih Manfred kembali bertugas diberi pangkat Kapten dan langsung menjadi Komandan atas 5 Jasta. Kemenangan-kemenangan kembali diperolehnya bersama dengan skadron yang dipimpinnya. Atas kehebatan skadron Jasta yang dipimpinnya pihak Sekutu menjulukinya sebagai “The Flying Circus”.
            Pada tanggal 21 April 1918, terjadi pertempuran yang sengit di udara antara 15 pesawat Sopwith Camel Squadron 209 Angkatan Udara Kerajaan Inggris dipimpin oleh Kapt. Arthur Roy Brown, seorang Kanada berhadapan dengan sekitar 20 Fokker Triplane dan Albatross milik Jerman. Ini merupakan pertempuran terakir Richthofen. Sebelum terjatuh, dia sempat duel udara dengan Brown. Pesawatnya jatuh dan rusak parah tepatnya di wilayah Morlancourt Ridge, dekat dengan Sungai Somme. Menurut hasil pemeriksaan Richthofen terbunuh oleh peluru pesawat Camel Brown. Jenazahnya dibawa dan disemayamkan di Bertangles pangkalan udara Squadron 209. Selanjutnya dimakamkan secara kehormatan militer Kerajaan Inggris.   

Senin, 22 Februari 2010

PEMIMPIN ADALAH DISORGANISATOR UTAMA


Di dalam tubuh organisasi Militer sekarang pada umumnya berlaku hal ini. Manakala perang berlalu dan kegiatan pemeliharaan kemampuan menjadi rutinitas prajurit. Setiap Panglima, para Komandan komandan satuan dari unit terkecil hingga pada terbesar memberikan perintah kepada staf di bawahnya untuk segera dilaksanakan. Sementara para staf sedang melaksanakan perintah, para komandan ini akan turun langsung meninjau para prajuritnya. Memeriksa keadaan dan sikap para prajurit. Melihat langsung keadaan barak-barak, kelengkapannya, seragam, sikap dalam baris-berbaris hingga pada sudut-sudut terkecil bagian dari prajuritnya. Untuk memastikan apakah sikap para prajuritnya masih “on the rule”. Hal-hal kecil inilah yang menjadi indikator bagi para pemimpin dalam mengukur keadaan dan kesiapan para prajuritnya. Semakin banyak penyimpangan dari aturan yang sudah ada sudah dapat dipastikan kesiapan prajuritnya sangat kendur dan sebaliknya apabila sikap para prajuritnya disiplin, rapi, bersih, dan tegas dapat dipastikan para Komandan ini memiliki pasukan yang siap digerakkan ke medan tempur manapun.


Senin, 04 Januari 2010

LEGENDA SIRAJA BATAK


Konon di atas langit (banua ginjang, nagori atas) adalah seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar, namun telurnya sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tsb menetas.
Mulajadi Na Bolon berkata, “Eramilah seperti biasa, telur itu akan menetas!” Dan ketika menetas, MMH sangat terkejut karena ia tidak mengenal ketiga makhluk yang keluar dari telur tsb. Kembali ia bertanya kepada Mulajadi Nabolon dan atas perintah Mulajadi Na Bolon, MMH memberi nama ketiga makhluk (manusia) tsb. Yang pertama lahir diberi nama TUAN BATARA GURU, yang kedua OMPU TUAN SORIPADA, dan yang ketiga OMPU TUAN MANGALABULAN, ketiganya adalah lelaki.
Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang pendamping wanita. MMH kembali memohon dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik : SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, yang melahirkan 2 anak laki laki diberi nama TUAN SORI MUHAMMAD, dan DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA dan 2 anak perempuan kembar bernama SIBORU SORBAJATI dan SIBORU DEAK PARUJAR. Anak kedua MMH, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan anak laki-laki bernama TUAN SORIMANGARAJA sedangkan anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU PANUTURI yang melahirkan TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.
Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahir anak ke-5 namun karena wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta). “Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA,” kata Mulajadi Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka dikawinkan.
“Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan kepada laki-laki mana?” tanya Tuan Batara Guru.
“Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJATI dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapu akan kami penuhi, tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya,” kata Tuan Soripada agak kuatir, karena putranya berwujud kadal.
Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka dijodohkan. Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud kadal.
Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan Debata.
“Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal,” katanya terisak-isak.
“Jangan begitu adikku,” kata Datu Tantan Debata. “Kami semua telah menyetujui bahwa itulah calon suamimu. Mas kawin yang sudah diterima ayah akan kita kembalikan 2 kali lipat jika kau menolak jadi istri Siraja Enda Enda.”
Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinya luluh tetapi kepada ayahnya ia minta agar menggelar “gondang” karena ia ingin “manortor” (menari) semalam suntuk.
Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya.
Menjelang matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke “para-para” dan dari sana ia melompat ke “bonggor” kemudian ke halaman dan yang mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!
Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya, Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda.
Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak keras. “Sorry ya, apa lagi saya,” katanya.
Namun karena didesak terus, ia akhirnya mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar “gondang” semalam suntuk karena ia ingin “manortor” juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah laut di benua tengah (Banua Tonga).
Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak.
Sayangnya, tanah yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA.
Siboru Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga.
“OK,” katanya. “Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan.”
Siboru Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke benua tengah (Banua Toru). Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana.
Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas.
Karena lebih senang tinggal di Banua Tonga (bumi), Mulajadi Na Bolon mengutus RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA MULA di kaki gunung Pusuk Buhit.
Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar : RAJA IHAT MANISIA (laki-laki) dan BORU ITAM MANISIA (perempuan).
Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunyai 3 anak laki laki : RAJA MIOK MIOK, PATUNDAL NA BEGU dan AJI LAPAS LAPAS. Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau karena mereka berselisih paham.
Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama ENGBANUA, dan 3 cucu dari Engbanua yaitu : RAJA UJUNG, RAJA BONANG BONANG dan RAJA JAU. Konon Raja Ujung menjadi leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias. Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama RAJA TANTAN DEBATA, dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, YANG MENJADI LELUHUR ORANG BATAK DAN BERDIAM DI SIANJUR MULA MULA DI KAKI GUNUNG PUSUK BUHIT!