Minggu, 11 Juli 2010

HARI PERTAMA SEKOLAH


Hari ini 12 Juli 2010, awal tahun ajaran baru buat anak-anakku. Sarah naik ke kelas II SD dan Raymond masuk Sekolah TK. Semua sudah disiapkan jauh-jauh hari. Kelengkapan buat sekolah juga sudah dibeli. Wah... semangatnya yang mau sekolah... Baju baru, tas baru, sepatu baru..... hmmm kelas baru, guru baru dan teman-teman baru....

Pagi-pagi semua sudah bangun dari jam 6.00. (hampir aja telat karna habis final piala dunia hehehe...). Termasuk si mungil Bianda yang masih 6 bulan. Tampaknya dia ngerti kalau Papa, Mama, Kakak dan Abangnya lagi sibuk di hari pertama ini. ‘Teeter dan kaos kakinya itu menjadi mainan yang menyibukkan dan mengasikkan baginya di atas kasur.

Setelah sarapan ½ piring nasi + segelas susu + 2 potong kue (martabak keju), jam 07.05 kami semua berangkat menuju sekolah Sarah, St Antonius. Di sana orang-orang sudah ramai apalagi murid-murid baru di kelas I yang masih di dampingi orang tuanya. Kelas baru Sarah ada di kelas IIA. Tampak teman-temannya sudah ada di kelas dan sibuk dengan kegiatannya. Ada juga yang lagi cerita pengalaman liburan kemarin. Tidak lama kemudian bel sekolah telah berbunyi, seluruh siswa berbaris di depan kelasnya masing-masing dan diberi pengarahan.



Selanjutnya kami antar Raymond ke TK Fajar yang letaknya tidak jauh dari Sekolah Sarah. Setibanya di sana, tidak lama kemudian bel berbunyi. Anak-anak dikumpulkan dan dibagi menurut ruangan kelasnya. Para guru saling memperkenalkan diri termasuk Suster kepala sekolah... anak-anak memperhatikan dengan serius dan semangat. Murid-murid juga diajarkan bernyanyi gembira membuat suasana menjadi ramai dan menyenangkan. Eitss... meski semua murid-murid TK Fajar sudah berkumpul di hari pertama ini tampak ada juga murid yang masih menangis dan merengek untuk pulang, mungkin belum berani barangkali ya... Tapi Raymond tampak sudah bisa mengatasi situasi ini. Sampai di kelas pun dia tampak semangat untuk mengikuti kegiatan.

Semoga tercapai cita-cita kalian ya sayang...
Tuhan memberkati...


Sabtu, 12 Juni 2010

Rittmeister Manfred Freiherr von Richthofen





"BARON MERAH - PENERBANG TERBESAR SEPANJANG SEJARAH"

Manfred Albrecht Freiherr von Richthofen (2 Mei 1892 – 21 April 1918) adalah seorang Pilot pesawat tempur Angkatan Udara Kekaisaran Jerman (Luftstreitkrafte). Dianggap sebagai ‘ace of aces’ Perang Dunia I karena kehebatannya memenangkan 80 pertempuran di udara dengan pesawat Albatross Scout atau pesawat Fokker Triplane yang dicat warna merah darah. Ini juga yang membuatnya dikenal dengan sebutan “The Red Baron”/ Baron Merah.
            Manfred lahir di Kleinburg, Breslau, Polandia dari kalangan keluarga aristokrat yang menonjol. Sejak kecil menyukai olahraga berkuda dan berburu serta hal-hal yang bersifat gymnastic di sekolah. Mulai mengikuti latihan kemiliteran sejak usia 11 tahun.
            Sebelum memulai karir di dunia penerbangan, tahun 1911 Manfred sudah pernah berdinas  di satuan Kavaleri yang memiliki tugas sebagai pengintai di front timur dan barat. Kecewa,  karena tidak banyak dilibatkan dalam pertempuran pada tahun 1915 dia direkomendasikan untuk bergabung dengan Angkatan Udara dan ditempatkan sebagai perwira pengawas. Pada suatu kesempatan Manfred bertemu dengan Oswald Boelcke yaitu seorang pilot tempur yang akhirnya membuatnya tertarik untuk bergabung menjadi pilot dalam Jagdstaffel yang dipimpin oleh Boelcke.
            Dengan keberanian dan kemahirannya, kemenangan demi kemenangan telah diperolehnya dalam setiap pertempuran. Dalam tradisi pilot Jagdstaffel, setiap kemenangan harus dirayakan dengan minum anggur merah buatan Perancis. Khusus bagi pilot yang berhasil menembak jatuh pesawat musuh masing-masing dihadiahkan sebuah piala perak bertuliskan nama mereka. Hal ini menjadi salah satu pemicu keinginan Richtofen untuk mengumpulkan piala dari masing-masing kemenangan yang diraihnya sehingga melupakan resikonya.
            Kepiawaiannya mengemudikan pesawat dan kehebatannya menghancurkan musuh-musuhnya di udara membuat Manfred semakin dikenal. Meskipun demikian beberapa kali dia mengalami insiden dalam pertempuran dan pernah lolos dari maut setelah satu peluru yang mengenai tulang tengkoraknya, mengakibatkan ia pingsan dan buta sementara waktu. Tidak berapa lama setelah pulih Manfred kembali bertugas diberi pangkat Kapten dan langsung menjadi Komandan atas 5 Jasta. Kemenangan-kemenangan kembali diperolehnya bersama dengan skadron yang dipimpinnya. Atas kehebatan skadron Jasta yang dipimpinnya pihak Sekutu menjulukinya sebagai “The Flying Circus”.
            Pada tanggal 21 April 1918, terjadi pertempuran yang sengit di udara antara 15 pesawat Sopwith Camel Squadron 209 Angkatan Udara Kerajaan Inggris dipimpin oleh Kapt. Arthur Roy Brown, seorang Kanada berhadapan dengan sekitar 20 Fokker Triplane dan Albatross milik Jerman. Ini merupakan pertempuran terakir Richthofen. Sebelum terjatuh, dia sempat duel udara dengan Brown. Pesawatnya jatuh dan rusak parah tepatnya di wilayah Morlancourt Ridge, dekat dengan Sungai Somme. Menurut hasil pemeriksaan Richthofen terbunuh oleh peluru pesawat Camel Brown. Jenazahnya dibawa dan disemayamkan di Bertangles pangkalan udara Squadron 209. Selanjutnya dimakamkan secara kehormatan militer Kerajaan Inggris.   

Senin, 22 Februari 2010

PEMIMPIN ADALAH DISORGANISATOR UTAMA


Di dalam tubuh organisasi Militer sekarang pada umumnya berlaku hal ini. Manakala perang berlalu dan kegiatan pemeliharaan kemampuan menjadi rutinitas prajurit. Setiap Panglima, para Komandan komandan satuan dari unit terkecil hingga pada terbesar memberikan perintah kepada staf di bawahnya untuk segera dilaksanakan. Sementara para staf sedang melaksanakan perintah, para komandan ini akan turun langsung meninjau para prajuritnya. Memeriksa keadaan dan sikap para prajurit. Melihat langsung keadaan barak-barak, kelengkapannya, seragam, sikap dalam baris-berbaris hingga pada sudut-sudut terkecil bagian dari prajuritnya. Untuk memastikan apakah sikap para prajuritnya masih “on the rule”. Hal-hal kecil inilah yang menjadi indikator bagi para pemimpin dalam mengukur keadaan dan kesiapan para prajuritnya. Semakin banyak penyimpangan dari aturan yang sudah ada sudah dapat dipastikan kesiapan prajuritnya sangat kendur dan sebaliknya apabila sikap para prajuritnya disiplin, rapi, bersih, dan tegas dapat dipastikan para Komandan ini memiliki pasukan yang siap digerakkan ke medan tempur manapun.