Kamis, 29 Juli 2010

29 Juli 1947 AURI Menyerang Pertahanan Belanda (Bakti TNI AU)



Hari Selasa tanggal 29 Juli 1947 merupakan hari bersejarah bagi Angkatan Udara Republik Indonesia dalam perjalanan pengabdiannya kepada negara dan bangsa Indonesia. Sebuah misi rahasia berupa operasi udara yang pertama dan dilakukan oleh 3 orang penerbang muda serta dibantu 3 penembak udara dengan sasaran tangsi-tangsi militer Belanda di kota Semarang, Salatiga dan Ambarawa.

Serangan udara ini merupakan aksi balas atas serangan membabi buta yang dilakukan oleh pesawat-pesawat Belanda pada tanggal 21 Juli 1947 di wilayah RI termasuk terhadap pangkalan-pangkalan udara di Jawa dan Sumatera. Ketika itu Pangkalan udara Maguwo (sekarang Lanud Adisutjipto) terhindar dari serangan tersebut dikarenakan kondisi cuaca berkabut menyelimuti Maguwo dan sekitarnya.

Ide serangan udara itu datang dari para penerbang-penerbang muda saat itu seperti Suharnoko Harbani, Sutarjo Sigit, Mulyono, dan Bambang Saptoaji. Ide yang merupakan wujud dari tingginya semangat kebangsaan yang disampaikan kepada perwira operasi yang pada waktu itu dijabat oleh Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma dan diteruskan kepada Kasau Komodor Udara Suryadi Suryadarma. Dari semula 4 pesawat yang direncanakan untuk melakukan penyerangan ternyata hanya 3 pesawat yang siap digunakan setelah melalui upaya teknisi yang bekerja siang dan malam.

Pada pagi hari sekitar pukul 05.00 deru mesin pesawat mulai terdengar dan kemudian take off secara berurutan diawali dar satu pesawat Guntei dgn pilot Kadet Udara I Mulyono dengan Air Gunner Dulrahman terbang menuju sasaran tangsi Belanda di kota Semarang dengan membawa 400 kg bom. Disusul kemudian dengan 2 pesawat Cureng yang dipiloti oleh Kadet Udara I Sutardjo Sigit dengan Air Gunner Sutardjo dengan sasaran tangsi Belanda di Salatiga dan Kadet Udara I Suharnoko Harbani dengan Air Gunner Kaput dengan sasaran Tangsi Belanda di kota Ambarawa. Masing-masing pesawat Cureng membawa bom seberat 50 kg yang digantungkan pada setiap sayapnya dan Air Gunner memangku peti-peti berisi bom-bom bakar.

Hari masih gelap dan lampu kota pun masih menyala, ketika bom-bom mulai dilepaskan dari gantungannya dan dilemparkan ke sasaran bangunan-bangunan markas Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Setelah tugas selesai mereka kemudian kembali ke Pangkalan Udara Maguwo dengan melakukan terbang rendah dan mendarat satu persatu pada pukul 06.20 pagi. Selanjutnya pesawat-pesawat tersebut segera disembunyikan di bawah pepohonan di sekitar pangkalan untuk menghindari pengamatan musuh.

Saat itu rasa bangga gembira dan haru mewarnai Pangkalan Udara Maguwo setelah karya besar telah berhasil dilakukan oleh Penerbang muda. Dengan segala keterbatasan seperti pesawat peninggalan Jepang, minimnya pengalaman karena baru satu minggu dinyatakan lulus sekolah penerbang mereka mampu mengukir sejarah dan menunjukkan kepada dunia luar tentang keberadaan Angkatan Udara Republik Indonesia di tengah-tengah perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah. Peristiwa besar dalam sejarah perjalanan pengabdian Angkatan Udara Republik Indonesia tersebut menggambarkan betapa besar semangat pengabdian, rela berkorban, keberanian, dan keikhlasan para pelopor dan pendahulu kita demi kehormatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Minggu, 11 Juli 2010

HARI PERTAMA SEKOLAH


Hari ini 12 Juli 2010, awal tahun ajaran baru buat anak-anakku. Sarah naik ke kelas II SD dan Raymond masuk Sekolah TK. Semua sudah disiapkan jauh-jauh hari. Kelengkapan buat sekolah juga sudah dibeli. Wah... semangatnya yang mau sekolah... Baju baru, tas baru, sepatu baru..... hmmm kelas baru, guru baru dan teman-teman baru....

Pagi-pagi semua sudah bangun dari jam 6.00. (hampir aja telat karna habis final piala dunia hehehe...). Termasuk si mungil Bianda yang masih 6 bulan. Tampaknya dia ngerti kalau Papa, Mama, Kakak dan Abangnya lagi sibuk di hari pertama ini. ‘Teeter dan kaos kakinya itu menjadi mainan yang menyibukkan dan mengasikkan baginya di atas kasur.

Setelah sarapan ½ piring nasi + segelas susu + 2 potong kue (martabak keju), jam 07.05 kami semua berangkat menuju sekolah Sarah, St Antonius. Di sana orang-orang sudah ramai apalagi murid-murid baru di kelas I yang masih di dampingi orang tuanya. Kelas baru Sarah ada di kelas IIA. Tampak teman-temannya sudah ada di kelas dan sibuk dengan kegiatannya. Ada juga yang lagi cerita pengalaman liburan kemarin. Tidak lama kemudian bel sekolah telah berbunyi, seluruh siswa berbaris di depan kelasnya masing-masing dan diberi pengarahan.



Selanjutnya kami antar Raymond ke TK Fajar yang letaknya tidak jauh dari Sekolah Sarah. Setibanya di sana, tidak lama kemudian bel berbunyi. Anak-anak dikumpulkan dan dibagi menurut ruangan kelasnya. Para guru saling memperkenalkan diri termasuk Suster kepala sekolah... anak-anak memperhatikan dengan serius dan semangat. Murid-murid juga diajarkan bernyanyi gembira membuat suasana menjadi ramai dan menyenangkan. Eitss... meski semua murid-murid TK Fajar sudah berkumpul di hari pertama ini tampak ada juga murid yang masih menangis dan merengek untuk pulang, mungkin belum berani barangkali ya... Tapi Raymond tampak sudah bisa mengatasi situasi ini. Sampai di kelas pun dia tampak semangat untuk mengikuti kegiatan.

Semoga tercapai cita-cita kalian ya sayang...
Tuhan memberkati...


Sabtu, 12 Juni 2010

Rittmeister Manfred Freiherr von Richthofen





"BARON MERAH - PENERBANG TERBESAR SEPANJANG SEJARAH"

Manfred Albrecht Freiherr von Richthofen (2 Mei 1892 – 21 April 1918) adalah seorang Pilot pesawat tempur Angkatan Udara Kekaisaran Jerman (Luftstreitkrafte). Dianggap sebagai ‘ace of aces’ Perang Dunia I karena kehebatannya memenangkan 80 pertempuran di udara dengan pesawat Albatross Scout atau pesawat Fokker Triplane yang dicat warna merah darah. Ini juga yang membuatnya dikenal dengan sebutan “The Red Baron”/ Baron Merah.
            Manfred lahir di Kleinburg, Breslau, Polandia dari kalangan keluarga aristokrat yang menonjol. Sejak kecil menyukai olahraga berkuda dan berburu serta hal-hal yang bersifat gymnastic di sekolah. Mulai mengikuti latihan kemiliteran sejak usia 11 tahun.
            Sebelum memulai karir di dunia penerbangan, tahun 1911 Manfred sudah pernah berdinas  di satuan Kavaleri yang memiliki tugas sebagai pengintai di front timur dan barat. Kecewa,  karena tidak banyak dilibatkan dalam pertempuran pada tahun 1915 dia direkomendasikan untuk bergabung dengan Angkatan Udara dan ditempatkan sebagai perwira pengawas. Pada suatu kesempatan Manfred bertemu dengan Oswald Boelcke yaitu seorang pilot tempur yang akhirnya membuatnya tertarik untuk bergabung menjadi pilot dalam Jagdstaffel yang dipimpin oleh Boelcke.
            Dengan keberanian dan kemahirannya, kemenangan demi kemenangan telah diperolehnya dalam setiap pertempuran. Dalam tradisi pilot Jagdstaffel, setiap kemenangan harus dirayakan dengan minum anggur merah buatan Perancis. Khusus bagi pilot yang berhasil menembak jatuh pesawat musuh masing-masing dihadiahkan sebuah piala perak bertuliskan nama mereka. Hal ini menjadi salah satu pemicu keinginan Richtofen untuk mengumpulkan piala dari masing-masing kemenangan yang diraihnya sehingga melupakan resikonya.
            Kepiawaiannya mengemudikan pesawat dan kehebatannya menghancurkan musuh-musuhnya di udara membuat Manfred semakin dikenal. Meskipun demikian beberapa kali dia mengalami insiden dalam pertempuran dan pernah lolos dari maut setelah satu peluru yang mengenai tulang tengkoraknya, mengakibatkan ia pingsan dan buta sementara waktu. Tidak berapa lama setelah pulih Manfred kembali bertugas diberi pangkat Kapten dan langsung menjadi Komandan atas 5 Jasta. Kemenangan-kemenangan kembali diperolehnya bersama dengan skadron yang dipimpinnya. Atas kehebatan skadron Jasta yang dipimpinnya pihak Sekutu menjulukinya sebagai “The Flying Circus”.
            Pada tanggal 21 April 1918, terjadi pertempuran yang sengit di udara antara 15 pesawat Sopwith Camel Squadron 209 Angkatan Udara Kerajaan Inggris dipimpin oleh Kapt. Arthur Roy Brown, seorang Kanada berhadapan dengan sekitar 20 Fokker Triplane dan Albatross milik Jerman. Ini merupakan pertempuran terakir Richthofen. Sebelum terjatuh, dia sempat duel udara dengan Brown. Pesawatnya jatuh dan rusak parah tepatnya di wilayah Morlancourt Ridge, dekat dengan Sungai Somme. Menurut hasil pemeriksaan Richthofen terbunuh oleh peluru pesawat Camel Brown. Jenazahnya dibawa dan disemayamkan di Bertangles pangkalan udara Squadron 209. Selanjutnya dimakamkan secara kehormatan militer Kerajaan Inggris.