Jumat, 20 Agustus 2010

SEJARAH SISTEM KATALOGING MATERIIL


Katalog merupakan suatu daftar barang yang memuat sejumlah barang atau informasi yang disusun menurut huruf atau angka sesuai dengan data yang dibutuhkan. Adapun tujuan dari Kataloging adalah untuk mencapai keseragaman sistem dalam pola pembinaan suatu institusi.

Konsep sistem Katalogisasi berawal dari prakarsa satuan terkecil Angkatan Bersenjata Amerika Serikat yaitu Depo Perbekalan Angkatan Laut Amerika (US Navy). Pada tahun 1914 Naval Depot ini membuat kode atau penomoran yang unik pada Materiil Bekal (Item of Supply) yang berada di gudang persediaan, dengan maksud dapat mengelola Materiil/Bekal yang ada di gudang persediaan dengan baik, serta dapat menyusun rencana kebutuhan Barang Bekal untuk pemesanan ulang, secara tepat dan cepat agar tidak terjadi persediaan menjadi NOL (Out of Stock).

Sistem ini dianggap berhasil sehingga pada tahun 1929 instansi lain termasuk pemerintahan juga mencoba membuat sistem Katalog. Yang oleh Presiden Hoover memutuskan agar dicanangkan pembuatan “Federal Standard Stock” dgn prioritas Departemen Keuangan.  Pada saat itu di instansi militer tidak terdapat barang-barang umum sedang instansi lainnya mengidentifikasi dan mengklarifikasi barang dengan cara sendiri dan sistem yang berbeda-beda millik sendiri. Pada tahun 1935 Presiden Roosevelt memutuskan suatu aturan “Federal Standard Stock Catalog” untuk diberikan ke seluruh Amerika, dengan maksud untuk membuat keseragaman sistem katalog. Dengan demikian setiap departemen dalam hal pemberian nama, deskripsi, klasifikasi, serta penomoran barang dalam sistem katalog harus sama. Namun hal ini sulit tercapai karena setiap istansi masih mempertahankan sistemnya sendiri-sendiri.

Hingga pada berlangsungnya Perang Dunia II sistem ini masih terjadi termasuk juga dalam tubuh Angkatan Bersenjata yaitu Angkatan Laut dan Angkatan Darat. Sementara sesuai perkembangannya banyak barang-barang yang baru dan keg dalam mendukung kegiatan operasional militer. Hingga pada puncaknya banyak barang-barang yang sama tetapi nama dan nomor serta deskripsinya berbeda. Hal ini menimbulkan kesemrawutan dan terjadilah masalah-masalah yang serius dan lemahnya atau tidak seragamnya dukungan pembekalan. Sehingga kegiatan pembekalan sering gagal.

Pada 18 Januari 1945 Presiden Roosevelt mengakui terjadi kesemrawutan Katalog Amerika mengakibatkan pemborosan keuangan dan membahayakan keamanan negara. Lalu diperintahkanlah seluruh Amerika untuk mengadakan komoditi katalog yang standard dan seluruh instansi pemerintah harus mengunakan sistem tersebut.

Presiden Truman juga melanjutkan sistem ini dengan mengadakan kerjasama antar departemen yang berbeda-beda sistemnya. Termasuk Angkatan Laut dan Angkatan Darat membentuk sistem Kataloging yang sama. Pada tanggal 1 Juli 1952 dengan Undang-Undang nomor 436 Departemen Pertahanan Amerika (DOD) mengesahkan “The Defense Cataloging and Standarization Aet” (Undang-Undang Katalogisasi dan Standard Pertahanan)

Sistem Katalog ini juga diterapkan di dalam organisasi NATO, pada tahun 1956 mencetuskan penggunaan sistem FSN (Federal Stock Number) yang kemudian diganti menjadi NSN (NATO Stock Number).

Seiring perkembangan waktu dan kemajuan teknologi banyak juga negara-negara di luar NATO yang menggunakan alat utama sistem senjatanya sehingga memaksa mereka untuk menggunakan sistem NSN terutama dalam hal perawatan dan pemeliharaan. Termasuk Indonesia juga telah resmi menggunakannya sejak tahun 1983.

Senin, 09 Agustus 2010

TRAGEDI DAKOTA VT-CLA 29 JULI 1947 (BAKTI TNI AU)

AURI yang telah berhasil mencatat sejarah di pagi hari tanggal 29 Juli 1947 ternyata harus menuai kesedihan di sore harinya. Pesawat-pesawat Belanda melakukan patroli di seluruh wilayah Jawa Tengah dan berupaya melakukan aksi balas kembali. Sebuah pesawat Dakota VT-CLA yang sedang melakukan penerbangan misi kemanusiaan ditembak jatuh oleh pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda. Pesawat tersebut sedang membawa obat-obatan bantuan Palang Merah Malaya kepada Palang Merah Indonesia.

Kurang lebih pukul 16.00 petugas dan penjaga Lapangan Tebang Maguwo bersiap siaga, melihat kedatangan pesawat yang belum jelas identitasnya. Mereka belum mendapat informasi mengenai kedatangan Dakota itu. Informasi semakin jelas setelah ada pemberitahuan dari KASAU Komodor Udara Suryadi Suryadarma. Pesawat Dakota VT-CLA mulai tampak terbang rendah dan melakukan putaran terakir untuk mendarat. Roda-roda pendarat mulai dikeluarkan ketika itu tiba-tiba muncul dua pesawat pembom P-40 Kitty Hawk dengan pilot Letnan Satu B.J.Ruensk dan Sersan Mayor W.E.Erkelens menuju Pesawat Dakota. Tanpa memperdulikan pesawat Dakota merupakan pesawat Transport tanpa senjata yang sedang dalam misi kemanusiaan, kedua pesawat pembom itu langsung menembakinya. Tampaknya serangan para kadet AURI di pagi hari membuat penerbang-penerbang Belanda terpukul dan sangat kalap sehingga pesawat-pesawatnya diterbangkan untuk melaksanakan pengintaian di sekitar Maguwo.

Waktu menunjuk pukul 17.00 ketika tembakan dilepas beberapa kali, peluru mengenai pesawat Dakota tersebut. Sebuah motornya terbakar dan usaha terakir untuk mengarahkan pesawat tersebut menuju ke landasan ternyata gagal. Menyaksikan pesawat Dakota yang terbang menukik semakin merendah dan berasap, Suharnoko Harbani dan beberapa rekan AURI Mess Tugu sejenak terpana kemudian segera naik mobil dan segera menuju ke arah pesawat yang meluncur jatuh.

Pesawat jatuh dari hancur menghantam tanggul persawahan, tengkuk pesawat patah nyaris lepas dari badan, meledak lalu terbakar tepat di perbatasan Desa Ngoto dan Wojo kurang lebih 3 km dari kota Jogja. Dalam daftar korban terdiri dari penerbang Australia, Alexander Noel Constantine, Copilot mantan Squadron Leader Inggris Roy Lance hazelhurst, Juru Radio Adisumarmo Wiryokusumo dan Bhida Ram Juru Teknik dari India. Sedangkan penumpang yang tewas yaitu Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto dan Komodor Muda Udara dr. Abdulrachman Saleh, dan Opsir Udara I Adisumarmo Wiryokusumo, serta Zainal Arifin, dari perwakilan Perdagangan Republik Indonesia. Dari sembilan penumpang dan awak pesawat ada 2 orang yang masih hidup yaitu Ny.Alexander Noel Constantine yang menderita luka parah dan A. Gani Handoko Cokro dari GKBI Comal, Tegal yang duduk di ekor pesawat yang hanya luka ringan. Keduanya segera diangkut ke Rumah Sakit Bethesda Jokjakarta. Tidak lama kemudian Ny. Alexander N.Constantine juga turut gugur karena tidak dapat tertolong lagi.

Kejadian ini cepat tersiar ke seluruh penjuru dunia, menimbulkan simpati dari negara lain untuk memberikan bantuan obat-obatan kepada Indonesia. Pada tanggal 26 Agustus 1947 obat-obatan diterima dalam jumlah yang sangat banyak dari negara India dan juga dari Palang Merah Internasional. Sebelumnya memaksa Belanda membuka blokade bantuan ke wilayah Indonesia. Peristiwa inilah yang kemudian hari diabadikan dan diperingati sebagai hari bakti TNI Angkatan Udara.

Kamis, 29 Juli 2010

29 Juli 1947 AURI Menyerang Pertahanan Belanda (Bakti TNI AU)



Hari Selasa tanggal 29 Juli 1947 merupakan hari bersejarah bagi Angkatan Udara Republik Indonesia dalam perjalanan pengabdiannya kepada negara dan bangsa Indonesia. Sebuah misi rahasia berupa operasi udara yang pertama dan dilakukan oleh 3 orang penerbang muda serta dibantu 3 penembak udara dengan sasaran tangsi-tangsi militer Belanda di kota Semarang, Salatiga dan Ambarawa.

Serangan udara ini merupakan aksi balas atas serangan membabi buta yang dilakukan oleh pesawat-pesawat Belanda pada tanggal 21 Juli 1947 di wilayah RI termasuk terhadap pangkalan-pangkalan udara di Jawa dan Sumatera. Ketika itu Pangkalan udara Maguwo (sekarang Lanud Adisutjipto) terhindar dari serangan tersebut dikarenakan kondisi cuaca berkabut menyelimuti Maguwo dan sekitarnya.

Ide serangan udara itu datang dari para penerbang-penerbang muda saat itu seperti Suharnoko Harbani, Sutarjo Sigit, Mulyono, dan Bambang Saptoaji. Ide yang merupakan wujud dari tingginya semangat kebangsaan yang disampaikan kepada perwira operasi yang pada waktu itu dijabat oleh Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma dan diteruskan kepada Kasau Komodor Udara Suryadi Suryadarma. Dari semula 4 pesawat yang direncanakan untuk melakukan penyerangan ternyata hanya 3 pesawat yang siap digunakan setelah melalui upaya teknisi yang bekerja siang dan malam.

Pada pagi hari sekitar pukul 05.00 deru mesin pesawat mulai terdengar dan kemudian take off secara berurutan diawali dar satu pesawat Guntei dgn pilot Kadet Udara I Mulyono dengan Air Gunner Dulrahman terbang menuju sasaran tangsi Belanda di kota Semarang dengan membawa 400 kg bom. Disusul kemudian dengan 2 pesawat Cureng yang dipiloti oleh Kadet Udara I Sutardjo Sigit dengan Air Gunner Sutardjo dengan sasaran tangsi Belanda di Salatiga dan Kadet Udara I Suharnoko Harbani dengan Air Gunner Kaput dengan sasaran Tangsi Belanda di kota Ambarawa. Masing-masing pesawat Cureng membawa bom seberat 50 kg yang digantungkan pada setiap sayapnya dan Air Gunner memangku peti-peti berisi bom-bom bakar.

Hari masih gelap dan lampu kota pun masih menyala, ketika bom-bom mulai dilepaskan dari gantungannya dan dilemparkan ke sasaran bangunan-bangunan markas Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Setelah tugas selesai mereka kemudian kembali ke Pangkalan Udara Maguwo dengan melakukan terbang rendah dan mendarat satu persatu pada pukul 06.20 pagi. Selanjutnya pesawat-pesawat tersebut segera disembunyikan di bawah pepohonan di sekitar pangkalan untuk menghindari pengamatan musuh.

Saat itu rasa bangga gembira dan haru mewarnai Pangkalan Udara Maguwo setelah karya besar telah berhasil dilakukan oleh Penerbang muda. Dengan segala keterbatasan seperti pesawat peninggalan Jepang, minimnya pengalaman karena baru satu minggu dinyatakan lulus sekolah penerbang mereka mampu mengukir sejarah dan menunjukkan kepada dunia luar tentang keberadaan Angkatan Udara Republik Indonesia di tengah-tengah perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah. Peristiwa besar dalam sejarah perjalanan pengabdian Angkatan Udara Republik Indonesia tersebut menggambarkan betapa besar semangat pengabdian, rela berkorban, keberanian, dan keikhlasan para pelopor dan pendahulu kita demi kehormatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia.