Rabu, 15 Desember 2010

Albert Ball



Albert Ball, VC, DSO & Two Bars, MC (14 Agustus 1896 – 7 Mei 1917) adalah seorang penerbang pesawat tempur Kerajaan Inggris pada Perang Dunia I. Peraih Lencana “Victoria Cross” yaitu penghargaan tertinggi untuk keberanian dalam menghadapi musuh dan kesetiaan dalam melaksanakan tugas, biasanya diberikan kepada anggota angkatan bersenjata Kerajaan Inngris. Pada saat kematiannya merupakan pemimpin Ace Sekutu dengan 44 kemenangan setelah Manfred von Richthofen.Untuk wilayah Inggris namanya menduduki peringkat teratas diikuti oleh Mannock Edward, James McCudden, dan George McElroy.
Lahir dan dibesarkan di Nottingham, Inggris. Ayahnya Sir Albert Ball adalah pengusaha sukses yang naik status dari tukang ledeng menjadi anggota Dewan kota hingga menjadi Walikota Nottingham. Ia dibesarkan dengan pengetahuan tentang senjata api dan menggemari hal-hal mengenai mesin dan peralatan listrik. Memiliki visi yang tajam dan sangat religius. Disamping itu Ball ketrampilannya yang lain di bidang pertukangan, modelling, bermain biola, dan fotografi. dan mengawali karier di Kehutanan Sherwood hingga pecahnya PD I diangkat sebagai Letnan Dua pada bulan Oktober 1914. Mulai mengenali dunia penerbangan dan secara gigih berlatih dengan memanfaatkan waktu-waktu luangnya hingga memperoleh lisensi pilotnya pada bulan Oktober 1915. Kemudian bergabung dengan Royal Flying Corps (RFC) untuk mengikuti pelatihan di Central Flying School, hingga pada akhirnya dianugerahi Brevet/ Wing terbangnya pada tanggal 26 Januari 1916.Pada bulan Februari Ball bergabung dengan Squadron 13 RFC di Marieux Perancis. Misi pertamanya adalah melaksanakan sejumlah penerbangan pengintaian sebelum ditempatkan di sebuah unit tempur Squadron 11 pada bulan Mei.
Pada awal penugasannya, dalam sebuah patroli di sekitar perbatasan dengan Jerman Ball tersesat oleh karena adanya hujan salju yang lebat. Saat keluar dari awan di ketinggian 500 kaki tanpa disadari ia sudah berada di dalam wilayah musuh. Dengan segala upaya ia mencoba segera pulang meskipun telah dihujani peluru dari darat. Perwira komandannya bertanya apa yang telah ia lakukan di dalam garis pertahanan Jerman dan apa untungnya melakukan itu? Ball menjawab: “Tak ada untungnya Pak, namun kita telah membuat Jerman marah, dan menghabiskan sekitar seratus pon peluru mereka.” Jawaban tak disangka-sangka itu membuat komandannya tertawa. Ball tidak jadi mendapat hukuman atas kelalaiannya.Berbagai pertempuran udara yang sangat heroik dialaminya bahkan sering membuatnya hampir gugur.
Ball merupakan ace Inggris pertama yang langsung cepat dikenal publik. Tanggal 7 April 1917, ditempatkan ke Squadron 56 yang bertugas ke wilayah Front Barat. Ia terus melanjutkan meraih rekor kemenangannya sampai akhirnya pada tanggal 7 Mei 1917 dalam pertarungan dengan Lothar von Richthofen saudara Manfred von Richthofen yang menggunakan pesawat Albatross, pesawat S.E.5nya tertembak dan jatuh pada sebuah lapangan di suatu wilayah di Perancis. Untuk mengingat dan menghormati jasa-jasanya, warga mendirikan patung Albert Ball di lapangan Nottingham Castle.

Rabu, 29 September 2010

LINTAS SEJARAH TOYOTA LAND CRUISER (BJ40 - FJ40)


Berbicara mengenai mobil Toyota Land Cruiser tentunya tidak luput dari FJ40 yang merupakan akar pokok pengembangan kendaraan dengan sistem penggerak 4 roda. Hingga saat ini telah banyak diproduksi mobil dengan sistem double gardan yang memiliki fungsi yang sangat bervariasi. Mulai dari untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mendukung profesi tertentu, perang, hiburan, penelitian dan lain sebagainya. Mengenai bentuk dan spesifikasi juga sangat beragam disesuaikan dengan kebutuhan dari penggunanya. Mulai dari bentuk asli dari pabrikan hingga pada modifikasi khusus.

Namun bila kita dilihat dalam perkembangannya hingga saat ini keberadaan mobil BJ40/FJ40 masih tetap eksis meski telah banyak tipe jenis mobil baru yang beredar di jalanan. Perhatikan saja dari segi model/style, fungsi/utilty, spesifikasi, kemampuan masih tidak kalah dengan produk mobil keluaran terbaru. Bahkan bengkel-bengkel khusus perawatan maupun modifikasinya juga tetap bisa bertahan dan laris di pasaran. Tidak sedikit mobil jenis FJ40/BJ40 yang telah direnovasi kembali, modifikasi ulang, bahkan tidak menutup kemungkinan masih ada yang masih mempertahankan kondisinya seperti semula. Hal ini membuktikan bahwa mobil type mobil ini tangguh dan dapat menembus segala zaman.

BJ40/FJ40 terkenal sangat tangguh karena seluruh body mobil ini terbuat dari bahan baja yang solid dan dipasangkan dengan chasis baja yang sangat kokoh menggunakan penggerak 4 roda (4 wheel drive) yang mampu membawanya ke berbagai medan yang sangat sulit sekalipun. Pengemudi dan penumpang juga tetap diberi rasa aman selama dalam perjalanan berkat tersedianya ruang kabin dan ruang kemudi yang cukup. Termasuk juga tersedia tempat untuk bagasi untuk barang atau penumpang. Bahkan ada tempat untuk memasang tempat bagasi di atas bila dipasangi roll bar atau rak bagasi maupun untuk menarik trolley di belakang. Untuk menambah kemampuannya dapat ditambahkan beberapa peralatan lain berupa winch yang dapat dipasang di depan maupun belakang mobil. Banyak asesoris yang dapat dipasang dan tetap meningkatkan penampilan kendaraan ini.

Pada awalnya, tahun 1951 dilakukan uji ketangguhan dengan melakukan pendakian ke puncak Gunung Fuji di Jepang yang memiliki ketingian 12.388 meter. Mobil BJ dikemudikan oleh Ichiro Taira melalui pos-pos(checkpoint) yang telah ditentukan. Keberhasilan ini membuat pengamat dari kepolisian Jepang sangat menyukai apa yang mereka saksikan dan langsung melakukan pemesanan. Hal ini diikuti oleh pemerintah dan lembaga kehutanan yang membuat produsen membangun 1.300 unit. Pada tahap awal ini juga telah dilakukan ekspor ke negara lain diantaranya Brazil dan Arab Saudi. Di tahun 1955 Seri B diganti menjadi seri F termasuk menambah beberapa model diantaranya Hardtop standar, pick up, station wagon, kanfas, dengan chasis yang pendek maupun panjang. Sasaran Ekspor pun bertambah ke Venezuela, Malaysia, Kuwait, Jordania, Dubai dan Australia serta Amerika di tahun 1958 yang hanya laku terjual 1 unit saja di tahun pertama.

Perkembangan pembuatan mobil ini telah melalui berbagai perubahan dalam performa mesin sementara dalam penampilan tidak banyak yang berubah selain penambahan beberapa asesoris pelengkap keamanan.

Tahun           Kapasitas        Power                                         Torsi

·       Petrol / Bensin 
1960 – 1975      3.8 L         105/125 HP        189 lb ft (256 N.m) / 209 lb ft (283 N.m)
1975 – 1984      4.2 L         135 HP               210 lb.ft (285 N.m)

·       Diesel   :
1974 – 1979      3.0 L         85 HP             141 lb.ft (191 N.m)
1979 – 1981      3.2 L         93 HP             159 lb.ft (216 N.m)
1979 – 1984      3.4 L         98 HP             167 lb.ft (226 N.m)
1972 – 1980      3.6 L         90 HP             151 lb.ft (205 N.m)
1980 – 1984      4.0 L         115 HP           177 lb.ft (240 N.m)

Jumat, 20 Agustus 2010

SEJARAH SISTEM KATALOGING MATERIIL


Katalog merupakan suatu daftar barang yang memuat sejumlah barang atau informasi yang disusun menurut huruf atau angka sesuai dengan data yang dibutuhkan. Adapun tujuan dari Kataloging adalah untuk mencapai keseragaman sistem dalam pola pembinaan suatu institusi.

Konsep sistem Katalogisasi berawal dari prakarsa satuan terkecil Angkatan Bersenjata Amerika Serikat yaitu Depo Perbekalan Angkatan Laut Amerika (US Navy). Pada tahun 1914 Naval Depot ini membuat kode atau penomoran yang unik pada Materiil Bekal (Item of Supply) yang berada di gudang persediaan, dengan maksud dapat mengelola Materiil/Bekal yang ada di gudang persediaan dengan baik, serta dapat menyusun rencana kebutuhan Barang Bekal untuk pemesanan ulang, secara tepat dan cepat agar tidak terjadi persediaan menjadi NOL (Out of Stock).

Sistem ini dianggap berhasil sehingga pada tahun 1929 instansi lain termasuk pemerintahan juga mencoba membuat sistem Katalog. Yang oleh Presiden Hoover memutuskan agar dicanangkan pembuatan “Federal Standard Stock” dgn prioritas Departemen Keuangan.  Pada saat itu di instansi militer tidak terdapat barang-barang umum sedang instansi lainnya mengidentifikasi dan mengklarifikasi barang dengan cara sendiri dan sistem yang berbeda-beda millik sendiri. Pada tahun 1935 Presiden Roosevelt memutuskan suatu aturan “Federal Standard Stock Catalog” untuk diberikan ke seluruh Amerika, dengan maksud untuk membuat keseragaman sistem katalog. Dengan demikian setiap departemen dalam hal pemberian nama, deskripsi, klasifikasi, serta penomoran barang dalam sistem katalog harus sama. Namun hal ini sulit tercapai karena setiap istansi masih mempertahankan sistemnya sendiri-sendiri.

Hingga pada berlangsungnya Perang Dunia II sistem ini masih terjadi termasuk juga dalam tubuh Angkatan Bersenjata yaitu Angkatan Laut dan Angkatan Darat. Sementara sesuai perkembangannya banyak barang-barang yang baru dan keg dalam mendukung kegiatan operasional militer. Hingga pada puncaknya banyak barang-barang yang sama tetapi nama dan nomor serta deskripsinya berbeda. Hal ini menimbulkan kesemrawutan dan terjadilah masalah-masalah yang serius dan lemahnya atau tidak seragamnya dukungan pembekalan. Sehingga kegiatan pembekalan sering gagal.

Pada 18 Januari 1945 Presiden Roosevelt mengakui terjadi kesemrawutan Katalog Amerika mengakibatkan pemborosan keuangan dan membahayakan keamanan negara. Lalu diperintahkanlah seluruh Amerika untuk mengadakan komoditi katalog yang standard dan seluruh instansi pemerintah harus mengunakan sistem tersebut.

Presiden Truman juga melanjutkan sistem ini dengan mengadakan kerjasama antar departemen yang berbeda-beda sistemnya. Termasuk Angkatan Laut dan Angkatan Darat membentuk sistem Kataloging yang sama. Pada tanggal 1 Juli 1952 dengan Undang-Undang nomor 436 Departemen Pertahanan Amerika (DOD) mengesahkan “The Defense Cataloging and Standarization Aet” (Undang-Undang Katalogisasi dan Standard Pertahanan)

Sistem Katalog ini juga diterapkan di dalam organisasi NATO, pada tahun 1956 mencetuskan penggunaan sistem FSN (Federal Stock Number) yang kemudian diganti menjadi NSN (NATO Stock Number).

Seiring perkembangan waktu dan kemajuan teknologi banyak juga negara-negara di luar NATO yang menggunakan alat utama sistem senjatanya sehingga memaksa mereka untuk menggunakan sistem NSN terutama dalam hal perawatan dan pemeliharaan. Termasuk Indonesia juga telah resmi menggunakannya sejak tahun 1983.